KLUBTEKNO.COM

Kabar Terkini Dunia IT, Gagdet, dan Teknologi

3 Fakta Menarik Bagaimana Virtual Reality Bisa Mengatasi Fobia Ketinggian

Foto: unsplash.com

KlubTekno.com – 3 Fakta Menarik Bagaimana Virtual Reality Bisa Mengatasi Fobia Ketinggian

Memang ada beragam cara untuk dapat menghilangkan fobia yang dimiliki seseorang, khususnya acrofobia atau ketakutan akan ketinggian. Baru-baru ini sebuah penelitian dari Universitas of Oxford menyatakan bahwa virtual reality dapat membantu orang yang fobia ketinggian. Terapi ini bisa dilakukan tanpa harus didampingi oleh terapis.

Disebutkan pula bahwa ketika seseorang memiliki fobia ketinggian dan kemudian menggunakan alat virtual reality, maka dapat diibaratkan bahwa orang yang bersangkutan sedang menyembuhkan diri dengan cara sendiri atau DIY (Do It Yourself).

Para peneliti telah mengujicobakan metodenya ke beberapa sukarelawan yang memiliki fobia akan ketinggian selama lebih dari 2 minggu. Ternyata, hasilnya ada perubahan yang cukup signifikan didapatkan oleh para sukarelawan. Mereka yang awalnya takut akan ketinggian menjadi lebih mudah meredam rasa takutnya itu. Bahkan, ada yang sudah tidak takut lagi.

Dan tentunya ada fakta-fakta menarik dari hasil penelitian menggunakan perangkat virtual reality tersebut dalam mengatasi masalah fobia ketinggian. Berikut daftar fakta bahwa virtual reality dapat membantu orang yang fobia ketinggian.

Tidak Semua Orang Terpengaruh, Tapi Cukup Efektif

Penggunaan perangkat virtual reality dalam mengatasi masalah fobia ketinggian seperti yang dilakukan oleh para peneliti dari Oxford tersebut sangatlah menjanjikan jika dikembangkan lebih lanjut lagi.

Hanya saja, menurut para peneliti memang tidak semua orang akan terpengaruh dari penggunaan perangkat virtual reality tersebut. Hal ini terbukti dari hasil penelitian dimana 49 orang sukarelawan yang menggunakan perangkat itu, 34 di antaranya mengatakan bahwa mereka sudah tidak lagi takut terhadap ketinggian. Sedangkan, sisanya masih ada yang takut dan ada pula yang tingkat ketakutannya memang menurun, namun tidak 100 % hilang.

Virtual Reality Mampu Menekan Rasa Takut Sampai Ke Titik Dasar

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan mengatakan bahwa mereka tidak mengubah atau mengotak-atik perangkat virtual reality yang digunakan. Namun, memang dalam perangkat tersebut disematkan pemandangan berupa daerah-daerah tinggi. Contohnya, seperti petualangan berjalan di jembatan tali yang tinggi atau situasi dimana pemilik fobia harus menyelamatkan seekor kucing dari ketinggian.

Saat penelitian, para sukarelawan yang memiliki fobia ketinggian akan sedikit dipaksa untuk membiasakan diri melihat tampilan simulator secara terus menerus. Hingga pada suatu titik mencapai respon dalam diri untuk menekan rasa takut yang muncul sampai ke tingkat dasar.

Dikarenakan penelitian yang dilakukan membuahkan hasil yang cukup bagus, para peneliti mengatakan bahwa perangkat virtual reality dapat membantu orang yang fobia ketinggian. Mereka kemudian menambahkan, virtual reality juga sangat potensial untuk membantu orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental sehingga akan tercipta rasa positif dan nyaman di dalam diri mereka.

Virtual Reality Bukanlah Pesaing Terapis

Namun, dibalik keberhasilan hasil penelitian, muncul anggapan bahwa nantinya keahlian seorang terapis yang biasa menangani masalah fobia seperti ini akan secara perlahan tersingkirkan.

Pernyataan ini kemudian ditangkis oleh para peneliti dan menyatakan hal itu tidaklah benar. Pasalnya, virtual reality hanyalah sebuah alat yang dapat membantu seseorang untuk dapat mengatasi masalah mereka dari dalam diri. Sedangkan, metode penyembuhan yang dilakukan oleh para terapis lebih kompleks lagi. Jadi, dapat dikatakan bahwa jasa terapis masih sangat dibutuhkan.

Para peneliti juga mengatakan bahwa akan menjadi satu kekuatan yang hebat jika saja para terapis fobia tersebut ikut menggunakan metode virtual reality dalam penanganan masalah kesehatan mental. Dengan menggabungkan antara kemampuan individu dengan teknologi terkini, maka sangat tidak mustahil bahwa masalah-masalah kesehatan mental akan lebih cepat diatasi dibandingkan periode sebelum penelitian. (da/ddr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *